20.9 C
Sukabumi
Rabu, September 22, 2021

Berhenti Bekerja Karena Covid-19, Eks Karyawan Kini Kembangkan Jamur Tiram Putih di Palabuhanratu

Diberhentikan bekerja oleh perusahaannya di Jakarta akibat Pandemi, Eks karyawan asal Kelurahan Palabuhanratu Kecamatan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi, Ahmad Suwarno kini mencoba mengadu nasib di lingkungan tempat tinggalnya untuk menggeluti usaha Jamur Tiram Putih untuk memenuhi biaya hidup keluarga. Simak kisahnya

PALABUHANRATU –  WAFIK HIDAYAT

Usaha yang dirintis pada Febuari 2021 tersebut kini mulai membuahkan hasil, meskipun omzetnya masih terbilang kecil tapi prospeknya dinilai cukup menjanjikan. “Saya mulai usaha ini pada bulan Februari 2021, karena berhenti dari pekerjaan di Jakarta akibat dampak Pandemi Covid-19. Sebelum buka usaha jamur tiram sempat membuka usaha lain seperti ternak Lele namun usaha tersebut gagal,” ungkap Ahmad Suwarno kepada Sukabumi Ekspres Kemarin (15/07/2021).

Ketertarikan terhadap usaha jamur lantaran pernah digeluti pada tahun 2013, tetapi baglog sebagai media tumbuhnya jamur masih dibeli dari orang lain pada saat itu. Namun kali ini baglog sudah dapat dibuat sendiri secara otodidak. “Saat ini baru ada 1800 baglog dan yang produktif baru 1500 buah, hasil jamur baru mencapai 4 hingga 5 kg sehari, satu kg dihargai 13 ribu. Dari penjualan baru mengahasilkan omzet Rp 60 ribu sehari, dan baru memasok ke pengecer atau pedagang keliling dan yang lainnya belum memasuk ke pasar,” bebernya.

Selain jamurnya lanjut dia, Baglog jamur tiram putih ini juga dipesan warga lain untuk dikembangkan oleh mereka. Hal ini menjadi penghasilan lain dari usaha yang mulai berkembang tersebut. “Setiap Minggu kita bikin baglog jamur tiram putih, karena ada aja masyarakat yang memesan baglog jamur untuk di kembangkan di rumah mereka masing-masing, baglog jamur siap produksi dihargai Rp 3 ribu per buahnya” terangnya.

Peluang bisnis untuk jamur ini terbuka lebar. karena pesanan dari pasar sangat tinggi dan belum dapat dipenuhi, usaha ini memiliki prospek yang baik dan dapat dikembangkan lebih besar lagi. “Kapasitas Lumbun yang dimiliki bisa menampung 9000 baglog, karena baru jadi prosesnya bertahap, dan juga strategi untuk memasok ke penjual agar pasokan ke mereka stabil, kalau sudah siap mungkin kita bisa penuhi kebutuhan pasar dengan konsisten,” kata dia.

Oleh sebab itu sambung dia, Saat ini ia tengah membantu memberikan pengetahuan dan pengalaman terkait budidaya jamur kepada beberapa pemuda di Cikidang, yang tertarik budidaya jamur dan apabila telah berjalan produksi mereka bisa memenuhi pesanan dari pasar. “Para pemuda ini nasibnya sama seperti saya, mereka saat ini nganggur karena di PHK akibat Pandemi,” tandasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -spot_img

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: